اللَّهُمَّ
لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى
قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai sesuatu yang
disembah. Sungguh Allah benar-benar murka kepada orang-orang yang telah
menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).” (HR. Malik dalam Muwatho’ no. 85 secara mursal. Imam Ahmad juga meriwayatkan dalam musnadnya secara musnad. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Sa’ad dalam Ath Thobaqot dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, hadits ini adalah shahih. Lihat catatan kaki Kitab Tauhid berisi komentar dari Syaikh ‘Abdul Qadir Al Arnauth, hal. 86)Yang dimaksud ‘watsan’ dalam hadits tersebut adalah sesuatu yang disembah akan tetapi tidak memiliki bentuk seperti patung. Contoh watsan adalah kubur, pohon, dan batu.
Hadits ini menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir umatnya terjatuh dalam mengagungkan kubur beliau seperti terjerumusnya Yahudi dan Nashrani yang berlebih-lebihan terhadap kubur para nabi mereka sampai kubur tersebut dijadikan watsan (sesuatu yang disembah selain Allah). Beliau meminta pada Allah agar kubur beliau tidak dijadikan seperti itu. Kemudian beliau menerangkan pula bahwa Yahudi dan Nashrani benar-benar dilaknat karena mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai watsan, sesembahan selain Allah. Alhasil, mereka terjatuh dalam jurang kesyirikan yang berlawanan dengan tauhid.
Intisari dari hadits tersebut menerangkan mengenai tindakan berlebihan terhadap kubur orang sholih bisa mengantarkan kepada syirik yang bertentangan dengan tauhid. Bentuk syirik di sini adalah dengan beribadah kepada mayit.
Beberapa faedah dari hadits di atas:
1- Bentuk berlebihan terhadap kubur para nabi adalah menjadikan kubur tersebut sebagai watsan, sesembahan selain Allah.
2- Bentuk berlebihan terhadap kubur orang sholih adalah menjadikan kubur tersebut sebagai tempat ibadah dan ini salah satu sarana yang mengantarkan pada kesyirikan.
3- Allah disifati dengan ghodob, yaitu sifat marah yang sesuai dengan keagungan-Nya.
Semoga Allah mengokohkan keimanan dan tauhid kita, juga menjauhkan kita dari segala bentuk kesyirikan.
Referensi:
Kitab Tauhid, Muhammad bin Sulaiman At Tamimi, tahqiq: Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth, terbitan Darus Salam.
Al Mulakhosh fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Darul ‘Ashimah, cetakan pertama, 1422 H.
www.rumaysho.com
0 komentar:
Posting Komentar