“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” [Al-Baqarah: 152]
Akhwati..
Dari bangun tidur, hingga sore ini, apa yang kita rasakan ni`mat
Allaah? Kalikan dengan sudah berapa tahun kita hidup, berapa bulan,
hari, jam, menit detik, sepersekian detik, semuanya tak luput dari
ni`mat Allaah! Sudahkah bersyukur?
Lihatlah, sekalipun sso tak taat pada Rabb nya, Allaah yang Maha Pengasih dan Penyayang, masih memberikan ni`matNya yang tak terhitung dan tak hingga.
Apalagi sso yang taat.
Mulai dari ni`mat Imam, Islam, Manhaj al Haq, kesempurnaan tubuh, ada mata yg masih bisa melihat, dan indera+organ lainnya, ni`mat sehat, ni`mat waktu luang untuk dimanfaatkan untuk hal2 yg manfaat, dicukupkan segalanya -walaupun masih saja merasa kurang krn tertutupnya pintu syukur dari hati2 yg berpenyakit-, ni`mat saudara/teman2 seIman dan seaqidah yang masih mencintai kita, ni`mat orang2 yg mau memberi nasihat, dll.
Sungguh, tak bisa dituliskan.
Belum lagi segala derita, dan ujian dan hal2 yg tak kita sukai, sebenarnya itu adalah ni`mat dr Allaah, jika bisa sabar dan beriman kpd Qadha dan Qadar Allaah.
Terkadang -bahkan sering-, kita hanya stag bersyukur ketika ditimpa kesenangan dan hal2 yg membuat kita bahagia saja, bahkan bersyukur jika diluangkan untuk perkara dunia saja, hingga kita lupa banyak hal yg musti kita syukuri utk perkara akhirat. Adakah menyadari?
Kita lupa dengan hal2 yg tidak kita sukai, yg sebenarnya itu baik menurut Allaah, shg kita lebih memilih mengeluh.
Lihatlah Rasulullaah, baik itu mendapati kesenangan atau kesusahan, beliau bersyukur.
Rasulullaah shalallaahu `alaihi wasallaam jika mendapat kesenangan dan hal2 yg disukai oleh beliau, maka beliau mengucap, "Alhamdulillaah alladziy bini`matihi tatimmushshaalihaat"
Jika mendapati hal2 yg tak disukai, beliau berucap, "Alhamdulillaah `alaa kulli haal"
Atau, Qadarullaah maa sya-a fa`ala.
Contoh, -ini faidah dari rekaman kajian Ustadz Badrussalaam-,
Sebuah keluarga, memiliki baby yg amaat lucu, pinter, bikin gemesin dan amat mereka sayangi. Namun, qadarullaah, titipan Allaah itu Dia ambil kembali. Sso yg berIman kpd Allaah dan Qadha dan Qadar Allaah akan berucap, "Alhamdulillaah `ala kulli haal, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Artinya, orangtua dari si baby itu sudah memiliki tabungan utk akhirat nanti, ini adalah ni`mat bagi mu`min jika bisa bersabar dan berIman serta Muwaahid!
Orang yg tak beriman akan berucap, "Anak meninggal kok yo mengucapkan alhamdulillaah"
Dan masih banyak sekali contoh lainnya.
Sering mendengar ucapan ini, "Ini adalah jerih payahku, kalaulah bukan aku, tentu akan begini dan begini", masya-a Allaah, ketahuilah, sso tak akan mampu melakukan apa2, jika bukan krn Allaah, kemudian baru krn dia.
“Dan tidak ada kenikmatan yang ada pada kalian kecuali datangnya dari Allaah.” (QS. 16: 3).
Melihat orang ditimpa sakit, barulah kita bersyukur, "Alhamdulillaah, ternyata Allaah masih sayang aku, dan masih diberikan kesehatan"
Kalaulah Allaah menyuruh menuliskan ni`mat yg sudah Dia berikan, melebihi air di lautan, daun2an yg berguguran dan yang masih di batang...
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allaah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya.” (QS. 16: 18)
Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Lihatlah orang yang ada di bawahmu dan janganlah kamu melihat orang yang ada di atasmu. Hal itu akan lebih baik bagimu agar kamu tidak meremehkan nikmat Allaah yang yang diberikan kepadamu.” (HR. Bukhori Muslim)
“Dan (ingatlah juga) ketika Rabb kalian mengatakan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka ketahuilah sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih’.” (QS. 14: 7).
Akhawaatii,
Kelak...
Akan dipertanyakan atas segala ni`mat yg sudah diberikan.
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS. At Takatsur: 8).
Syaikh As Sa’di rahimahullah menerangkan,
Nikmat yang telah kalian peroleh di dunia, apakah benar kalian telah mensyukurinya, disalurkan untuk melakukan hak Allah dan tidak disalurkan untuk perbuatan maksiat? Jika kalian benar-benar bersyukur, maka kalian kelak akan mendapatkan nikmat yang lebih mulia dan lebih afdhol.
Atau kalian malah tertipu dengan nikmat tersebut? Malah kalian tidak mensyukurinya? Bahkan sungguh celaka, kalian malah memanfaatkan nikmat tersebut dalam kemaksiatan.
Allaahul musta`aan.
Lalu, Bagaimana Menjadi Hamba-Nya yang Bersyukur?
Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, “Syukur itu menurut asalnya adalah adanya pengakuan akan nikmat yang telah Alloh berikan dengan cara tunduk kepada-Nya, merasa hina di hadapan-Nya dan mencintai-Nya. Maka barangsiapa yang tidak merasakan bahwa itu adalah suatu kenikmatan maka dia tidak akan mensyukurinya. Barangsiapa yang mengetahui itu adalah nikmat namun dia tidak mengetahui dari mana nikmat itu berasal, dia juga tidak akan mensyukurinya. Barangsiapa yang mengetahui itu adalah suatu nikmat dan mengetahui pula dari mana nikmat itu berasal, namun dia mengingkarinya sebagaimana orang yang mengingkari Alloh yang memberi nikmat, maka dia telah kafir. Barangsiapa yang mengetahui itu adalah suatu nikmat dan dari mana nikmat itu berasal, mengakuinya dan tidak mengingkarinya, akan tetapi ia tidak tunduk kepada-Nya dan tidak mencintai-Nya atau ridho kepada-Nya, maka ia tidak mensyukurinya. Barangsiapa yang mengetahui itu adalah nikmat dan dari mana nikmat itu berasal, mengakuinya, tunduk kepada yang memberi nikmat, mencintai-Nya dan meridhoi-Nya, dan menggunakan dalam kecintaan dan ketaatan kepada-Nya, maka inilah baru disebut sebagai orang yang bersyukur.”
Mengambil fa`idah dari beberapa website, dengan sedikit tambahan yang dirasa perlu.
Semoga bermanfaat.
Aku berlindung kpd Allaah dari nasihat yg tak bermanfaat. Semoga kita menjadi manusia yg selalu bersyukur.
Allaahumma inni `ala dzikrika wa syukrika wa husnil ibaadatik.
Lihatlah, sekalipun sso tak taat pada Rabb nya, Allaah yang Maha Pengasih dan Penyayang, masih memberikan ni`matNya yang tak terhitung dan tak hingga.
Apalagi sso yang taat.
Mulai dari ni`mat Imam, Islam, Manhaj al Haq, kesempurnaan tubuh, ada mata yg masih bisa melihat, dan indera+organ lainnya, ni`mat sehat, ni`mat waktu luang untuk dimanfaatkan untuk hal2 yg manfaat, dicukupkan segalanya -walaupun masih saja merasa kurang krn tertutupnya pintu syukur dari hati2 yg berpenyakit-, ni`mat saudara/teman2 seIman dan seaqidah yang masih mencintai kita, ni`mat orang2 yg mau memberi nasihat, dll.
Sungguh, tak bisa dituliskan.
Belum lagi segala derita, dan ujian dan hal2 yg tak kita sukai, sebenarnya itu adalah ni`mat dr Allaah, jika bisa sabar dan beriman kpd Qadha dan Qadar Allaah.
Terkadang -bahkan sering-, kita hanya stag bersyukur ketika ditimpa kesenangan dan hal2 yg membuat kita bahagia saja, bahkan bersyukur jika diluangkan untuk perkara dunia saja, hingga kita lupa banyak hal yg musti kita syukuri utk perkara akhirat. Adakah menyadari?
Kita lupa dengan hal2 yg tidak kita sukai, yg sebenarnya itu baik menurut Allaah, shg kita lebih memilih mengeluh.
Lihatlah Rasulullaah, baik itu mendapati kesenangan atau kesusahan, beliau bersyukur.
Rasulullaah shalallaahu `alaihi wasallaam jika mendapat kesenangan dan hal2 yg disukai oleh beliau, maka beliau mengucap, "Alhamdulillaah alladziy bini`matihi tatimmushshaalihaat"
Jika mendapati hal2 yg tak disukai, beliau berucap, "Alhamdulillaah `alaa kulli haal"
Atau, Qadarullaah maa sya-a fa`ala.
Contoh, -ini faidah dari rekaman kajian Ustadz Badrussalaam-,
Sebuah keluarga, memiliki baby yg amaat lucu, pinter, bikin gemesin dan amat mereka sayangi. Namun, qadarullaah, titipan Allaah itu Dia ambil kembali. Sso yg berIman kpd Allaah dan Qadha dan Qadar Allaah akan berucap, "Alhamdulillaah `ala kulli haal, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Artinya, orangtua dari si baby itu sudah memiliki tabungan utk akhirat nanti, ini adalah ni`mat bagi mu`min jika bisa bersabar dan berIman serta Muwaahid!
Orang yg tak beriman akan berucap, "Anak meninggal kok yo mengucapkan alhamdulillaah"
Dan masih banyak sekali contoh lainnya.
Sering mendengar ucapan ini, "Ini adalah jerih payahku, kalaulah bukan aku, tentu akan begini dan begini", masya-a Allaah, ketahuilah, sso tak akan mampu melakukan apa2, jika bukan krn Allaah, kemudian baru krn dia.
“Dan tidak ada kenikmatan yang ada pada kalian kecuali datangnya dari Allaah.” (QS. 16: 3).
Melihat orang ditimpa sakit, barulah kita bersyukur, "Alhamdulillaah, ternyata Allaah masih sayang aku, dan masih diberikan kesehatan"
Kalaulah Allaah menyuruh menuliskan ni`mat yg sudah Dia berikan, melebihi air di lautan, daun2an yg berguguran dan yang masih di batang...
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allaah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya.” (QS. 16: 18)
Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Lihatlah orang yang ada di bawahmu dan janganlah kamu melihat orang yang ada di atasmu. Hal itu akan lebih baik bagimu agar kamu tidak meremehkan nikmat Allaah yang yang diberikan kepadamu.” (HR. Bukhori Muslim)
“Dan (ingatlah juga) ketika Rabb kalian mengatakan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka ketahuilah sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih’.” (QS. 14: 7).
Akhawaatii,
Kelak...
Akan dipertanyakan atas segala ni`mat yg sudah diberikan.
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS. At Takatsur: 8).
Syaikh As Sa’di rahimahullah menerangkan,
Nikmat yang telah kalian peroleh di dunia, apakah benar kalian telah mensyukurinya, disalurkan untuk melakukan hak Allah dan tidak disalurkan untuk perbuatan maksiat? Jika kalian benar-benar bersyukur, maka kalian kelak akan mendapatkan nikmat yang lebih mulia dan lebih afdhol.
Atau kalian malah tertipu dengan nikmat tersebut? Malah kalian tidak mensyukurinya? Bahkan sungguh celaka, kalian malah memanfaatkan nikmat tersebut dalam kemaksiatan.
Allaahul musta`aan.
Lalu, Bagaimana Menjadi Hamba-Nya yang Bersyukur?
Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, “Syukur itu menurut asalnya adalah adanya pengakuan akan nikmat yang telah Alloh berikan dengan cara tunduk kepada-Nya, merasa hina di hadapan-Nya dan mencintai-Nya. Maka barangsiapa yang tidak merasakan bahwa itu adalah suatu kenikmatan maka dia tidak akan mensyukurinya. Barangsiapa yang mengetahui itu adalah nikmat namun dia tidak mengetahui dari mana nikmat itu berasal, dia juga tidak akan mensyukurinya. Barangsiapa yang mengetahui itu adalah suatu nikmat dan mengetahui pula dari mana nikmat itu berasal, namun dia mengingkarinya sebagaimana orang yang mengingkari Alloh yang memberi nikmat, maka dia telah kafir. Barangsiapa yang mengetahui itu adalah suatu nikmat dan dari mana nikmat itu berasal, mengakuinya dan tidak mengingkarinya, akan tetapi ia tidak tunduk kepada-Nya dan tidak mencintai-Nya atau ridho kepada-Nya, maka ia tidak mensyukurinya. Barangsiapa yang mengetahui itu adalah nikmat dan dari mana nikmat itu berasal, mengakuinya, tunduk kepada yang memberi nikmat, mencintai-Nya dan meridhoi-Nya, dan menggunakan dalam kecintaan dan ketaatan kepada-Nya, maka inilah baru disebut sebagai orang yang bersyukur.”
Mengambil fa`idah dari beberapa website, dengan sedikit tambahan yang dirasa perlu.
Semoga bermanfaat.
Aku berlindung kpd Allaah dari nasihat yg tak bermanfaat. Semoga kita menjadi manusia yg selalu bersyukur.
Allaahumma inni `ala dzikrika wa syukrika wa husnil ibaadatik.

0 komentar:
Posting Komentar