Bismillah,
Tamu agung nan penuh barakah akan kembali mendatangi kita. Kedatangannya yang terhitung jarang, hanya sekali dalam setahun menumbuhkan kerinduan mendalam di hati kaum Muslimin. Leher memanjang dan mata nanar memandang sementara hati berdegup kencang menunggu kapan gerangan hilalnya terbit.
Itulah Ramadhân, bulan yang sangat dikenal dan benar-benar ditunggu kehadirannya oleh kaum Musl
Tamu agung nan penuh barakah akan kembali mendatangi kita. Kedatangannya yang terhitung jarang, hanya sekali dalam setahun menumbuhkan kerinduan mendalam di hati kaum Muslimin. Leher memanjang dan mata nanar memandang sementara hati berdegup kencang menunggu kapan gerangan hilalnya terbit.
Itulah Ramadhân, bulan yang sangat dikenal dan benar-benar ditunggu kehadirannya oleh kaum Musl
imin.
Kemuliaanya diabadikan dalam al-Qur'ân dan melalui untaian-untaian sabda Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم. Allâh عزّوجلّ menjadikannya sarat dengan kebaikan, mulai dari awal Ramadhan sampai akhir. Allâh عزّوجلّ berfirman
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhân, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)".(QS. al-Baqarah/2:185)
Jiwa yang terpenuhi dengan keimanan tentu akan segera mempersiapkan diri untuk meraih keutamaan serta keberkahan yang yang ada didalamnya.
Pada bulan ini Allah عزّوجلّ menurunkan al-Qur'ân. Seandainya bulan Ramadhan tidak memiliki keutamaan lain selain turunnya al-Qur'ân maka itu sudah lebih dari cukup. Lalu bagaimana bila ditambah lagi dengan berbagai keutamaan lainnya, seperti pengampunan dosa, peninggian derajat kaum Mukminin, pahala semua kebaikan dilipatgandakan, dan pada setiap malam Ramadhan, Allah عزّوجلّ membebaskan banyak jiwa dari api neraka.
Pada bulan mulia ini, pintu-pintu Surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat, setan-setan juga dibelenggu. Pada bulan ini juga ada dua malaikat yang turun dan berseru, "Wahai para pencari kebaikan, sambutlah ! Wahai para pencari kejelekan, berhentilah !"
Pada bulan Ramadhân terdapat satu malam yang lebih utama dari seribu bulan. Orang yang tidak mendapatkannya berarti dia terhalang dari kebaikan yang sangat banyak.
Mengikuti petunjuk Nabi صلى الله عليه وسلم yang mulia dalam melakukan ketaatan adalah hal yang sangat urgen, terlebih pada bulan Ramadhan. Karena amal shalih yang dilakukan oleh seorang hamba tidak akan diterima kecuali jika dia ikhlash dan mengikuti petunjuk Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم. Jadi, keduanya merupakan rukun diterimanya amal shalih. Keduanya ibarat dua sayap yang saling melengkapi. Seekor burung tidak bisa terbang dengan menggunakan satu sayap.
Marilah kita berusaha untuk mempelajari prilaku Rasûlullâh di bulan Ramadhân agar kita bisa meneladaninya. Karena orang yang tidak berada diatas petunjuk Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم di dunia dia tidak akan bisa bersama beliau صلى الله عليه وسلم di akhirat. Kebahagiaan tertinggi akan bisa diraih oleh seseorang ketika ia mengikuti petunjuk Rasûlullâh secara lahir dan batin. Dan seseorang tidak akan bisa mengikuti Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم kecuali dengan ilmu yang bermanfaat. Ilmu itu tidak akan disebut bermanfaat kecuali bila diiringi dengan amalan yang shalih. Jadi amalan shalih merupakan buah ilmu yang bermanfaat.
Dibawah ini adalah beberapa kebiasaan dan petunjuk Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم pada bulan Ramadhân :
a. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم tidak akan memulai puasa kecuali jika beliau sudah benar-benar melihat hilal atau berdasarkan berita dari orang yang bisa dipercaya tentang munculnya hilal atau dengan menyempurnakan bilangan Sya'bân menjadi tiga puluh.
b. Berita tentang terbitnya hilal tetap beliau صلى الله عليه وسلم terima sekalipun dari satu orang dengan catatan orang tersebut bisa dipercaya. Ini menunjukan bahwa khabar ahad bisa diterima.
c. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم melarang umatnya mengawali Ramadhân dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya kecuali puasa yang sudah terbiasa dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, beliau n melarang umatnya berpuasa pada hari Syak (yaitu hari yang masih diragukan, apakah sudah tanggal satu Ramadhan ataukah masih tanggal 30 Sya'bân-red)
d. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم berniat untuk melakukan puasa saat malam sebelum terbit fajar dan beliau صلى الله عليه وسلم menyuruh umatnya untuk melakukan hal yang sama.
Hukum ini hanya berlaku untuk puasa-puasa wajib, tidak untuk puasa sunat.
e. Beliau صلى الله عليه وسلم tidak memulai puasa sampai benar-benar terlihat fajar shadiq dengan jelas. Ini dalam rangka merealisasikan firman Allâh عزّوجلّ :
وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
"Dan makan serta minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar". (QS. al-Baqarah/2:187)
Beliau صلى الله عليه وسلم telah menjelaskan kepada umatnya bahwa fajar itu ada dua macam fajar shâdiq dan kâdzib. Fajar kadzib tidak menghalangi seseorang untuk makan, minum, atau menggauli istri. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم tidak pernah ekstrem kepada umatnya, baik pada bulan Ramadhân ataupun bulan lainnya. Beliau صلى الله عليه وسلم tidak pernah mensyari'atkan adzan (pemberitahuan) tentang imsak.
f. Beliau صلى الله عليه وسلم menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda :
لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
"Umatku senantiasa baik selama mereka menyegerakan berbuka"
g. Jarak antara sahur Rasûlullâh dan iqâmah seukuran bacaan lima puluh ayat
h. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم memiliki akhlak yang sangat mulia. Beliau صلى الله عليه وسلم adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Bagaimana tidak, akhlak beliau adalah al-Qur'ân, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah رضي الله عنها. Beliau صلى الله عليه وسلم sangat menganjurkan umatnya untuk berakhlak mulia, orang-orang yang sedang menunaikan ibadah berpuasa. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkatan dan perbuatan dusta, maka tidak membutuhkan puasanya sama sekali".
i. Rasûlullâh sangat memperhatikan muamalah yang baik dengan keluarganya. Pada bulan Ramadhân, kebaikan beliau صلى الله عليه وسلم kepada keluarga semakin meningkat lagi.
j. Puasa tidak menghalangi beliau untuk sekedar memberikan kecupan manis kepada para istrinya. Beliau صلى الله عليه وسلم adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya.
k. Beliau صلى الله عليه وسلم tidak meninggalkan siwak, baik di bulan Ramadhân maupun diluar Ramadhân guna membersihkan mulutnya dan upaya meraih keridhaan Allâh عزّوجلّ.
l. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم pernah berbekam padahal beliau صلى الله عليه وسلم sedang menunaikan ibadah puasa. Beliau صلى الله عليه وسلم membolehkan umatnya untuk berbekam sekalipun sedang berpuasa. Pendapat yang kontra dengan ini berarti mansukh (telah dihapus).
m. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم pernah berjihad pada bulan Ramadhân dan menyuruh para shahabatnya untuk membatalkan puasa mereka supaya kuat saat berhadapan dengan musuh.
Diantara bukti Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم sayang kepada umatnya yaitu beliau صلى الله عليه وسلم membolehkan orang yang sedang dalam perjalanan, orang yang sakit dan orang yang lanjut usia serta wanita hamil dan menyusui untuk membatalkan puasanya.
n. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadhân bila dibandingkan dengan bulan-bulan lain, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân untuk mencari lailatul qadr.
o. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân kecuali pada tahun menjelang wafat, beliau صلى الله عليه وسلم beri'tikaf selama dua puluh hari. Ketika beri'tikaf, beliau صلى الله عليه وسلم selalu dalam keadaan berpuasa
p. Ramadhân adalah Syahrul Qur'ân (bulan al-Qur'ân), sehingga tadarus al-Qur'ân menjadi rutinitas beliau, bahkan tidak ada seorangpun yang sanggup menandingi kesungguh-sungguhan beliau صلى الله عليه وسلم dalam tadarus al-Qur'ân. Malaikat Jibril عليه السلام senantiasa datang menemui beliau صلى الله عليه وسلم untuk tadarus al-Qur'ân dengan Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم.
q. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم adalah orang yang dermawan. Kedermawanan beliau صلى الله عليه وسلم di bulan Ramadhân tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kedermawanan beliau صلى الله عليه وسلم ibarat angin yang bertiup membawa kebaikan, tidak takut kekurangan sama sekali.
r. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم adalah seorang mujahid sejati. Ibadah puasa yang sedang beliau صلى الله عليه وسلم jalankan tidak menyurutkan semangat beliau untuk andil dalam berbagai peperangan. Dalam rentang waktu sembilan tahun, beliau mengikuti enam pertempuran, semuanya terjadi pada bulan Ramadhân. Beliau صلى الله عليه وسلم juga melakukan berbagai kegiatan fisik pada bulan Ramadhân, seperti penghancuran masjid dhirâr,[1] penghancuran berhala-berhala milik orang Arab, penyambutan duta-duta, penaklukan kota Makkah, bahkan pernikahan beliau dengan Hafshah
Intinya, pada masa hidup Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم, bulan Ramadhân merupakan bulan yang penuh dengan keseriusan, perjuangan dan pengorbanan. Ini sangat berbeda dengan realita sebagian kaum Muslimin saat ini yang memandang bulan Ramadhân sebagai saat bersantai, malas-malasan atau bahkan bulan menganggur atau istirahat.
Semoga Allâh عزّوجلّ memberikan taufik kepada kita untuk selalu mengikuti jejak Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم, hidup kita diatas sunnah dan semoga Allah عزّوجلّ mewafatkan kita juga dalam keadaan mengikuti sunnah Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم.
Salin dari CHM Ibnu Majah -jazaahumullaahu khayraa-
Semarang, 11 Sya`ban 1433H
Ummu Raziin
Kemuliaanya diabadikan dalam al-Qur'ân dan melalui untaian-untaian sabda Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم. Allâh عزّوجلّ menjadikannya sarat dengan kebaikan, mulai dari awal Ramadhan sampai akhir. Allâh عزّوجلّ berfirman
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhân, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)".(QS. al-Baqarah/2:185)
Jiwa yang terpenuhi dengan keimanan tentu akan segera mempersiapkan diri untuk meraih keutamaan serta keberkahan yang yang ada didalamnya.
Pada bulan ini Allah عزّوجلّ menurunkan al-Qur'ân. Seandainya bulan Ramadhan tidak memiliki keutamaan lain selain turunnya al-Qur'ân maka itu sudah lebih dari cukup. Lalu bagaimana bila ditambah lagi dengan berbagai keutamaan lainnya, seperti pengampunan dosa, peninggian derajat kaum Mukminin, pahala semua kebaikan dilipatgandakan, dan pada setiap malam Ramadhan, Allah عزّوجلّ membebaskan banyak jiwa dari api neraka.
Pada bulan mulia ini, pintu-pintu Surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat, setan-setan juga dibelenggu. Pada bulan ini juga ada dua malaikat yang turun dan berseru, "Wahai para pencari kebaikan, sambutlah ! Wahai para pencari kejelekan, berhentilah !"
Pada bulan Ramadhân terdapat satu malam yang lebih utama dari seribu bulan. Orang yang tidak mendapatkannya berarti dia terhalang dari kebaikan yang sangat banyak.
Mengikuti petunjuk Nabi صلى الله عليه وسلم yang mulia dalam melakukan ketaatan adalah hal yang sangat urgen, terlebih pada bulan Ramadhan. Karena amal shalih yang dilakukan oleh seorang hamba tidak akan diterima kecuali jika dia ikhlash dan mengikuti petunjuk Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم. Jadi, keduanya merupakan rukun diterimanya amal shalih. Keduanya ibarat dua sayap yang saling melengkapi. Seekor burung tidak bisa terbang dengan menggunakan satu sayap.
Marilah kita berusaha untuk mempelajari prilaku Rasûlullâh di bulan Ramadhân agar kita bisa meneladaninya. Karena orang yang tidak berada diatas petunjuk Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم di dunia dia tidak akan bisa bersama beliau صلى الله عليه وسلم di akhirat. Kebahagiaan tertinggi akan bisa diraih oleh seseorang ketika ia mengikuti petunjuk Rasûlullâh secara lahir dan batin. Dan seseorang tidak akan bisa mengikuti Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم kecuali dengan ilmu yang bermanfaat. Ilmu itu tidak akan disebut bermanfaat kecuali bila diiringi dengan amalan yang shalih. Jadi amalan shalih merupakan buah ilmu yang bermanfaat.
Dibawah ini adalah beberapa kebiasaan dan petunjuk Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم pada bulan Ramadhân :
a. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم tidak akan memulai puasa kecuali jika beliau sudah benar-benar melihat hilal atau berdasarkan berita dari orang yang bisa dipercaya tentang munculnya hilal atau dengan menyempurnakan bilangan Sya'bân menjadi tiga puluh.
b. Berita tentang terbitnya hilal tetap beliau صلى الله عليه وسلم terima sekalipun dari satu orang dengan catatan orang tersebut bisa dipercaya. Ini menunjukan bahwa khabar ahad bisa diterima.
c. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم melarang umatnya mengawali Ramadhân dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya kecuali puasa yang sudah terbiasa dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, beliau n melarang umatnya berpuasa pada hari Syak (yaitu hari yang masih diragukan, apakah sudah tanggal satu Ramadhan ataukah masih tanggal 30 Sya'bân-red)
d. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم berniat untuk melakukan puasa saat malam sebelum terbit fajar dan beliau صلى الله عليه وسلم menyuruh umatnya untuk melakukan hal yang sama.
Hukum ini hanya berlaku untuk puasa-puasa wajib, tidak untuk puasa sunat.
e. Beliau صلى الله عليه وسلم tidak memulai puasa sampai benar-benar terlihat fajar shadiq dengan jelas. Ini dalam rangka merealisasikan firman Allâh عزّوجلّ :
وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
"Dan makan serta minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar". (QS. al-Baqarah/2:187)
Beliau صلى الله عليه وسلم telah menjelaskan kepada umatnya bahwa fajar itu ada dua macam fajar shâdiq dan kâdzib. Fajar kadzib tidak menghalangi seseorang untuk makan, minum, atau menggauli istri. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم tidak pernah ekstrem kepada umatnya, baik pada bulan Ramadhân ataupun bulan lainnya. Beliau صلى الله عليه وسلم tidak pernah mensyari'atkan adzan (pemberitahuan) tentang imsak.
f. Beliau صلى الله عليه وسلم menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda :
لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
"Umatku senantiasa baik selama mereka menyegerakan berbuka"
g. Jarak antara sahur Rasûlullâh dan iqâmah seukuran bacaan lima puluh ayat
h. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم memiliki akhlak yang sangat mulia. Beliau صلى الله عليه وسلم adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Bagaimana tidak, akhlak beliau adalah al-Qur'ân, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah رضي الله عنها. Beliau صلى الله عليه وسلم sangat menganjurkan umatnya untuk berakhlak mulia, orang-orang yang sedang menunaikan ibadah berpuasa. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkatan dan perbuatan dusta, maka tidak membutuhkan puasanya sama sekali".
i. Rasûlullâh sangat memperhatikan muamalah yang baik dengan keluarganya. Pada bulan Ramadhân, kebaikan beliau صلى الله عليه وسلم kepada keluarga semakin meningkat lagi.
j. Puasa tidak menghalangi beliau untuk sekedar memberikan kecupan manis kepada para istrinya. Beliau صلى الله عليه وسلم adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya.
k. Beliau صلى الله عليه وسلم tidak meninggalkan siwak, baik di bulan Ramadhân maupun diluar Ramadhân guna membersihkan mulutnya dan upaya meraih keridhaan Allâh عزّوجلّ.
l. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم pernah berbekam padahal beliau صلى الله عليه وسلم sedang menunaikan ibadah puasa. Beliau صلى الله عليه وسلم membolehkan umatnya untuk berbekam sekalipun sedang berpuasa. Pendapat yang kontra dengan ini berarti mansukh (telah dihapus).
m. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم pernah berjihad pada bulan Ramadhân dan menyuruh para shahabatnya untuk membatalkan puasa mereka supaya kuat saat berhadapan dengan musuh.
Diantara bukti Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم sayang kepada umatnya yaitu beliau صلى الله عليه وسلم membolehkan orang yang sedang dalam perjalanan, orang yang sakit dan orang yang lanjut usia serta wanita hamil dan menyusui untuk membatalkan puasanya.
n. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadhân bila dibandingkan dengan bulan-bulan lain, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân untuk mencari lailatul qadr.
o. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân kecuali pada tahun menjelang wafat, beliau صلى الله عليه وسلم beri'tikaf selama dua puluh hari. Ketika beri'tikaf, beliau صلى الله عليه وسلم selalu dalam keadaan berpuasa
p. Ramadhân adalah Syahrul Qur'ân (bulan al-Qur'ân), sehingga tadarus al-Qur'ân menjadi rutinitas beliau, bahkan tidak ada seorangpun yang sanggup menandingi kesungguh-sungguhan beliau صلى الله عليه وسلم dalam tadarus al-Qur'ân. Malaikat Jibril عليه السلام senantiasa datang menemui beliau صلى الله عليه وسلم untuk tadarus al-Qur'ân dengan Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم.
q. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم adalah orang yang dermawan. Kedermawanan beliau صلى الله عليه وسلم di bulan Ramadhân tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kedermawanan beliau صلى الله عليه وسلم ibarat angin yang bertiup membawa kebaikan, tidak takut kekurangan sama sekali.
r. Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم adalah seorang mujahid sejati. Ibadah puasa yang sedang beliau صلى الله عليه وسلم jalankan tidak menyurutkan semangat beliau untuk andil dalam berbagai peperangan. Dalam rentang waktu sembilan tahun, beliau mengikuti enam pertempuran, semuanya terjadi pada bulan Ramadhân. Beliau صلى الله عليه وسلم juga melakukan berbagai kegiatan fisik pada bulan Ramadhân, seperti penghancuran masjid dhirâr,[1] penghancuran berhala-berhala milik orang Arab, penyambutan duta-duta, penaklukan kota Makkah, bahkan pernikahan beliau dengan Hafshah
Intinya, pada masa hidup Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم, bulan Ramadhân merupakan bulan yang penuh dengan keseriusan, perjuangan dan pengorbanan. Ini sangat berbeda dengan realita sebagian kaum Muslimin saat ini yang memandang bulan Ramadhân sebagai saat bersantai, malas-malasan atau bahkan bulan menganggur atau istirahat.
Semoga Allâh عزّوجلّ memberikan taufik kepada kita untuk selalu mengikuti jejak Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم, hidup kita diatas sunnah dan semoga Allah عزّوجلّ mewafatkan kita juga dalam keadaan mengikuti sunnah Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم.
Salin dari CHM Ibnu Majah -jazaahumullaahu khayraa-
Semarang, 11 Sya`ban 1433H
Ummu Raziin

0 komentar:
Posting Komentar